Sapu Lidi


Tahun lalu, saya dan ayah saya menonton berita tawuran antar kamSapu Lidipung di salah satu TV nasional yang berujung kepada tewasnya beberapa warga—baik itu yang langsung terlibat maupun tidak. Ayah saya berkomentar, “Gimana negara ini bisa maju kalau penduduknya tidak pernah akur?” yang kemudian disambung dengan komentar sinis, “Apa negara ini harus diserang dan dijajah dulu oleh negara lain agar penduduknya kembali bersatu?” Agak miris memang mendengar retorika yang dipertanyakan oleh ayah saya. Di satu sisi, ayah saya berkata jujur dan sesuai kenyataan. Di sisi lain, saya tidak percaya harus sampai sejauh ‘diserang dan dijajah’ agar penduduk Indonesia bisa bersatu.

Waktu berlalu. Saya sudah tidak perduli dengan hal itu. Hingga bulan kemarin, terjadi bencana atau musibah atau cobaan atau apa pun namanya yang datang dengan menggunakan identitas BANJIR. Di hampir semua kanal TV nasional, ditampilkan dahsyatnya sebuah persatuan, kerja sama, dan gotong royong yang dilakukan oleh hampir semua warga dalam usaha saling bantu membantu korban banjir—tanpa pamrih, tanpa mengenal lelah, dan tidak memperdulikan status sosial. Setidaknya begitulah yang terlintas di kepala saya. Warga yang dahulu tawuran, sekarang bahu membahu. Polisi dan TNI yang dahulu bersitegang, sekarang saling berbagi tugas. Yang dahulu lawan, sekarang kawan.

Ternyata tanpa saya sadari, hal yang kurang lebih sama dengan kasus ‘persatuan’ di atas juga saya alami ketika bekerja di salah satu perusahaan logistik besar. Pikiran saya melayang ke akhir tahun 2011 hingga awal tahun 2012. Pada waktu itu, departemen IT sedang mengimplementasikan projek komputerisasi—setelah sebelumnya melakukan proses analisa dan pembuatan selama kurang lebih satu tahun. Pada saat itu, saya—secara pribadi dan tidak sadar—walaupun lelah merasakan kenikmatan bekerja, yang jika dihubungkan dengan value perusahaan, banyak sekali poin-poin key behaviour yang bisa diambil.

Dimulai dari waktu ketika projek ini dimulai, masing-masing personil IT dialokasikan pada projek sesuai keahliannya (key: expert) yang saling mengisi satu sama lain. Ada yang bertugas menganalisa, merancang data, membuat program, hingga membuat dokumentasi. Walaupun aplikasi yang dibuat tidak 100% sempurna, namun masing-masing personil terlihat sangat jelas mencurahkan ide-ide (key: creative & innovative) yang mereka miliki. Jujur pada waktu itu—karena baru bergabung dengan IT dan tidak mengikuti projek dari awal—saya sempat bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat mereka mau bekerja total seperti itu. Setelah bertanya kepada salah satu personil kunci projek ini, jawaban mereka sederhana: mereka hanya ingin (key: passion) projek ini selesai tepat waktu (key: dedication) dan tepat guna (key: proffesionalism).

Yang paling berkesan bagi saya dalam projek ini adalah ketika saya diikut sertakan dalam tahap implementasi. Dalam dunia IT, ini adalah tahap tersulit dalam suatu projek. Di tahap—yang seharusnya melibatkan banyak orang—ini, kendala yang paling dirasakan oleh tim IT adalah berkomunikasi (key: listen to others) dengan calon pengguna aplikasi. Beberapa dari kami kesulitan dan membutuhkan waktu lama untuk ‘menerjemahkan’ keinginan pengguna ke dalam aplikasi. Namun, karena tekad kuat (key: tough & struggle) untuk memberikan kemudahan (key: helpful) bagi pengguna melalui aplikasi, segala rintangan bisa diatasi sedikit demi sedikit hingga selesai (key: focus).

Banyak sekali cerita sedih pada tahap implementasi ini yang anehnya justru membuat ikatan semangat antara masing-masing personil semakin kuat (key: intimacy). Namun, seperti kata pepatah: “siapa yang menanam, dia yang akan menuai”. Implementasi selesai dan bisa dikatakan relatif sukses. Paska implementasi, aplikasi mulai dipakai secara bertahap. Masih terdapat banyak sekali kekurangan pada waktu itu, namun perbaikan terus dilakukan (key: continous improvement) agar aplikasi menjadi semakin lebih baik dan informasi yang disediakan bisa dipertanggung jawabkan (key: accountable).

Satu batang lidi cenderung tidak berguna. Seratus batang lidi yang diikat menjadi sapu lidi cenderung tidak bermanfaat jika didiamkan. Terkadang, butuh kekuatan besar dari luar sapu lidi tersebut agar sapu lidi bermanfaat penuh. Implementasi ini membuat saya dan tim IT menjadi solid dan kompak (key: togetherness). Semoga, hal tersebut terulang kembali di implementasi selanjutnya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s