Lisensi dan Karakter Orang Indonesia


LicenseBeberapa tahun belakangan ini, kita, para pengguna komputer dihantui oleh suatu jargon yang bernama lisensi. Apakah lisensi itu? Perlukah kita membeli lisensi? Lalu apa hubungannya dengan karakter kita sebagai orang Indonesia?

Lisensi, secara mudah dapat dijelaskan sebagai izin untuk menggunakan perangkat lunak komputer. Lho, memangnya setelah membeli komputer, kita tidak boleh langsung menggunakannya? Komputer adalah perangkat keras yang tidak bisa melakukan apapun tanpa adanya perangkat lunak seperti Windows dan Office. Jadi… Ya, secara legal, jawabannya adalah tidak boleh dan kita harus membeli lisensi perangkat lunak terlebih dahulu. Kita gunakan Windows, maka kita harus membeli lisensi Windows. Kita gunakan Office, maka kita harus membeli lisensi Office.

Analoginya sebenarnya mudah. Kita bisa mensejajarkan komputer dengan sepeda motor dan Windows dengan bensin. Apakah motor bisa jalan tanpa adanya bensin? Apakah ketika kita membeli sebuah sepeda motor, kita juga sudah memikirkan bahwa kita harus membeli bensin agar motor kita bisa digunakan? Tapi apakah kita memikirkan hal yang sama ketika kita membeli komputer?

Beberapa orang mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui hal mengenai lisensi ini beserta segala tetek-bengeknya. Oh ya? Benar-benar tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau tidak mau mencari tahu? Lalu setelah tahu, apakah kita akan membeli lisensi? Percaya atau tidak, saya sudah melakukan survey lisan dengan bertanya-tanya kepada beberapa teman saya, dan hasilnya adalah sebagian besar dari mereka tidak mau membeli lisensi walaupun mereka tahu bahwa mereka harus membelinya. Kenapa?

Mohon maaf sebelumnya, tulisan ini adalah hasil analisa saya pribadi dan saya tidak bermaksud menghina, menohok, atau memojokkan orang Indonesia. Toh, saya juga orang Indonesia dan sebenarnya saya juga merasa terpojok oleh tulisan saya sendiri. Menurut saya, orang Indonesia belum bisa menghargai apa pun yang tidak terlihat bentuknya. Kita senang dan kagum dengan tampilan dan cangkang suatu produk walaupun kita belum bisa melihat dan/atau menggunakan secara maksimal manfaatnya. Kita menilai bagus tidaknya suatu produk dari penampakan fisik dan bukan dari manfaat yang kita dapat. Mau bukti?

Kita mulai dari yang paling umum, yaitu telepon genggam. Mungkin hampir semua yang sedang membaca tulisan ini memiliki telepon genggam, minimal satu set. Harganya pun ada yang melebihi harga sebuah netbook. Namun apakah kita menggunakan semua fitur yang ada dalam telepon genggam tersebut? Kita selalu membangga-banggakan, handphone gue harganya sekian juta, bisa Internet dengan kecepatan 3G, bisa WiFi, kameranya keren, sekian MegaPixel. Namun kenyataannya… jangankan internet 3G, pulsa untuk menelepon saja terkadang tidak ada; jangankan menggunakan WiFi, untuk konfigurasinya saja harus selalu minta bantuan orang lain; jangankan MegaPixel, istilah Exposure saja tidak tahu. Kita mampu membeli telepon genggam dengan harga selangit tapi kita tidak mau membeli pulsa untuk internet yang harganya 1/50-nya saja. Kita mampu membeli telepon genggam teknologi terbaru tanpa pernah berpikir fungsi dan manfaatnya.

Mau contoh yang lain? Kita coba beralih ke dunia otomotif. Akhir-akhir ini banyak sekali mobil dan motor dengan harga yang tidak rasional dengan jika dibandingkan dengan fungsinya. Apakah kita, para pengguna mobil dan motor dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah menggunakan bahan bakar non-subsidi? Tidak? Bukannya penggunaan bahan bakar non-subsidi akan membuat mesin tidak cepat rusak? Kenapa?

Untuk sementara, tidak usahlah kita menghargai nilai hak cipta dan kekayaan intelektual dari suatu produk yang tidak memiliki bentuk fisik, akan tetapi cukuplah kita menghargai usaha dan biaya dalam menghasilkan produk tersebut. Sekedar informasi, untuk membuat software Microsoft Office membutuhkan tim yang terdiri dari ratusan orang yang bekerja selama beberapa bulan. Dan tahukah anda untuk membuat sebuah game PS2—yang bajakannya bisa dibeli cukup dengan harga Rp 5000—terkadang dibutuhkan waktu 1-3 tahun?

Sebenarnya masih banyak sekali contoh-contoh yang lain. Mulai dari asuransi, reparasi, uang sewa bangunan, listrik, pulsa telepon, dan berbagai macam layanan jasa yang tidak berhubungan dengan produk.

Lalu kenapa kita tidak membeli lisensi? Jelas sekali, produknya kita gunakan setiap hari. Jelas sekali, produknya kita manfaatkan secara maksimal. Jelas sekali, produknya membantu kita untuk menghasilkan uang. Apakah karena tidak tahu? Apakah karena produknya tidak memiliki bentuk fisik? Apakah karena kita mau menghasilkan uang tanpa modal? Apakah karena kita picik dan sombong?

Hanya diri kita masing-masing dan Tuhan yang tahu jawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s