Jason Statham Melamar Kerja di Perusahaan Logistik


StathamMenurut kamus Merriam Webster, definisi unik berarti hanya satu, tidak ada yang menyamai, memiliki karakter yang khas, dan tidak biasa. Wow, berarti sangat sulit sekali yah menjadi karakter yang unik di planet Bumi yang diperkirakan memiliki jumlah penduduk sebanyak 7 miliar manusia. Memiliki rambut berwarna merah terang mungkin bisa dibilang unik di ruang lingkup keluarga, RT, RW, bahkan kelurahan. Tetapi, apakah masih bisa dibilang unik untuk ruang lingkup Bumi?

Saya yakin setiap manusia yang ada di planet Bumi adalah unik dan tidak ada yang sama satu sama lain, namun masing-masing keunikan tersebut belum tentu menonjol dan terlihat oleh manusia yang lain. Hal inilah yang menjadikan kita semua hampir terlihat sama baik secara fisik maupun karakter. Sama halnya dengan suatu bidang usaha. Perusahaan-perusahaan yang menggeluti satu bidang usaha yang sama pastilah dituntut untuk memberikan sesuatu yang berbeda dan unik kepada para pelanggannya. Namun terkadang kita sendiri masih bingung menerjemahkan arti kreatifitas, nilai tambah, unik, dan inovasi.

Kreatifitas adalah kemampuan untuk membuat perbedaan dengan berbekal kepintaran (kemampuan menyerap informasi) dan kecerdasan (kemampuan mengelola kepintaran). Orang yang kreatif adalah orang yang melihat hal yang sama tapi berfikir dengan cara yang berbeda. Namun untuk meraih sukses dibutuhkan inovasi yaitu kemampuan untuk menemukan nilai komersil dari kreatifitas. Seseorang yang memiliki kemampuan melihat tembus pandang boleh lah disebut unik sejak lahir. Tetapi seseorang biasa yang memiliki kacamata tembus pandang tidak bisa dibilang unik, melainkan hanya memiliki nilai tambah. Sama halnya dengan perusahaan. Sebuah perusahaan yang menggeluti bidang usaha baru di ruang lingkup tertentu bisa dibilang unik sejak lahir. Beda dengan perusahaan yang menggeluti bidang usaha yang sudah digeluti beberapa perusahaan sebelumnya—dimana harus berusaha keras menemukan keunikan agar terlihat berbeda dengan perusahaan lain.

Berfikir kreatif untuk membuat sesuatu yang unik itu tidaklah mudah apalagi jika kita terbiasa untuk berfikir logis dan mengikuti aturan. Lho, berarti untuk menemukan sesuatu yang unik harus tidak boleh berfikir logis dan tidak boleh mengikuti aturan? Ya. Karena terkadang kedua hal tersebut menghalangi kita untuk berfikir kreatif—walaupun tidak selalu dan selamanya. Untuk berfikir kreatif, kadang kala kita dituntut untuk melawan arus, berfikir tidak logis, dan melawan norma-norma dan aturan-aturan yang sedang berlaku di lingkungan kita—atau istilah kerennya “Out of the Box”. Yang lebih sulit lagi, setelah kita berhasil menemukan ide kreatif untuk membuat sesuatu yang unik, belum tentu orang lain akan bisa menerima “ide gila” kita. Coba bayangkan diri kita berada pada tahun 1974 bersamaan dengan waktu Bpk. Alm. Tirto Utomo melempar produk Aqua ke pasar. Pada waktu itu harga 950ml Aqua adalah Rp 75, dimana harga 1 liter bensin hanya Rp 46. Mungkin kita akan berkata, “Gila nih si Tirto! Air putih kok dijual? Mahal lagi!! Mana ada orang yang mau beli? Mendingan minum di warung atau rumah saja.” Tapi coba sekarang lihat bagaimana reputasi Aqua yang dinobatkan sebagai merk air minum dalam kemasan (AMDK) terbesar di Asia Pasifik, dan nomor dua terbesar di dunia (hasil riset Zenith International) dan sudah memiliki puluhan perusahaan kompetitor di Indonesia yang mengekor bisnis Aqua.

Mungkin contoh-contoh berikut bisa digunakan sebagai awal dalam mencari kreatifitas dan keunikan. Aqua mungkin bisa dibilang unik karena selama beberapa tahun di awal merupakan satu-satunya pemain dalam bisnis AMDK—walaupun pada saat itu tingkat permintaan masyarakat terhadap AMDK sangatlah rendah. Apple dan Microsoft adalah pemain dalam bisnis komputer yang selalu bersaing ketat dengan mengusung keunikan yang berbeda dan tidak saling bersentuhan. Produk Apple memiliki konsep kesederhanaan dan keindahan, sedangkan produk Microsoft memiliki konsep kompleksitas dan kelengkapan fitur. Pepsi Cola dan Coca Cola adalah pemain dalam bisnis minuman beraroma Cola yang bisa dibilang sama-sama tidak memiliki keunikan yang menonjol. Pepsi dan Coca sama-sama hanya mengandalkan antusias dan fanatisme dari masing-masing penggemar mereka. Lalu dimanakah letak perusahaan penyedia jasa logistik dalam hal kreatifitas dan keunikan produk?

Bagaimana kalau kita berikan diskon dengan formula unik untuk hari-hari tertentu kepada pelanggan? Itu bukan ide unik melainkan nilai lebih.

Atau bagaimana kalau kita berikan kemampuan kepada pelanggan untuk memantau pesanan mereka secara online? Ini namanya nilai lebih juga.

Berikan keamanan lebih? Layanan informatika super canggih? Jumlah armada besar? Sama. Nilai lebih.

Ahhh… saya tau. Bagaimana kalo perpindahan barang antar warehouse menggunakan conveyor belt? Hmmm… memang hal ini bisa dibilang unik, namun pelanggan kita tidak mengetahui keunikan tersebut padahal tujuan kita menciptakan keunikan adalah agar dikenal oleh pelanggan dan dunia.

Atau ini: Saya pernah membayangkan seandainya salah satu perusahaan logistik menerima order secara anonim (tanpa nama) seperti dalam film The Transporter yang hanya memiliki 4 aturan: (1) The deal is the deal; (2) No names; (3) Never open the package; dan (4) Never make a promise you can’t keep. Menurut saya banyak prospek yang ingin menggunakan jasa logistik anonim walaupun sekilas ide ini ‘gila’ dan tidak mungkin untuk dijalankan di Indonesia. Ketika Jason Statham (pemeran utama The Transporter) melamar kerja sebagai Manager untuk order anonim, mungkin saja wawancara berikut akan terjadi antara dia dan Direksi perusahaan bersangkutan.

Direksi (D): Wahhh… Order secara anonim mungkin akan menambah omzet kita, tapi hal ini memiliki banyak kemungkinan kriminalitasnya.

Jason Statham (J): Lho… bagaimana dengan Bank Swiss? Anda menerima order secara anonim mungkin hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan bisnis yang dilakukan oleh Bank Swiss.

D: Tapi kan hukum di Swiss berbeda dengan hukum di Indonesia. Gak bisa disamakan gitu dong.

J: Anda tau gak sudah beberapa kali Indonesia mengadaptasi hukum luar negeri? Itu semua ada parameternya yang tentunya bisa diatur dan disesuaikan.

D:  Lalu kalau kita tidak boleh tau barang yang akan kita kirimkan atau simpan, bagaimana kita bisa tenang terhadap penegakkan hukum? Misalnya saja, ternyata barang tersebut adalah senjata atau narkoba yang jelas-jelas kepemilikannya melanggar hukum di Indonesia.

J: Kan anda bisa membuat perjanjian awal: “Penyedia jasa logistik tidak bertanggung jawab terhadap jenis barang yang dilayani”. Ingat aturan nomor satu.

D: Seandainya barang tersebut berbahaya dan bisa merugikan kita secara langsung, misalnya bom yang akan menghancurkan gudang atau unit pengantar.

J: Hare gene masih aja gak bisa deteksi bom? BTW, seharusnya di perjanjian awal disebutkan mengenai keharusan pelanggan menaruh uang deposit yang bisa digunakan sebagai jaminan keamanan terhadap kerusakan yang akan mungkin kita terima. Dan setelah proses pengiriman atau penyimpanan selesai, uang bisa dikembalikan.

D: Lalu jika anonim, pembayarannya gimana?

J: Anda ini bagaimana? Proses operasional yang fisiknya nyata saja bisa dilakukan, apalagi transaksi perbankan yang semakin modern. Wong, transfer dana saja bisa via hape. Kalau mau benar-benar anonim, mau tidak mau harus menggunakan kurir.

Well… contoh di atas mungkin nyeleneh tapi mudah-mudahan bisa memancing ide-ide kreatifitas pembaca artikel ini untuk menyumbangkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang unik. Bukan jenis unik sejak lahir. Melainkan unik yang merupakan hasil pemikiran kreatif bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s