Pindah Agama


ExchangeWahhh… judulnya sangat provokatif sekali. Tapi jangan terkecoh dulu karena itu hanyalah judul yang saya buat dengan tujuan hanya untuk menarik perhatian pembaca. Sebelum masuk ke pembahasan judul di atas, kita akan melihat terlebih dahulu suatu ‘issue’ yang sering kita hadapi di dunia kerja.

Bagi para pengguna jasa layanan IT khususnya pengguna komputer terkadang sering merasa kesal dan lelah dengan perubahan yang seringkali ‘dipaksakan’ oleh departemen IT terhadap pengguna. Misalnya ‘pemaksaan’ untuk pindah dari menggunakan Microsoft Office ke OpenOffice, pindah dari menggunakan LIMS ke PILS, atau pindah dari fleksibelnya menggunakan Microsoft Excel ke rumitnya menggunakan Oracle Finance. Secara naluriah, sebagian besar manusia memang sering kesulitan dalam menerima perubahan. Hal ini mungkin bisa disamakan dengan mengubah kebiasaan menulis dari tangan kanan ke tangan kiri atau sebaliknya. Bahkan kita bisa meminjam istilah yang lebih ekstrim dari personel-personel di departemen IT yang juga terkadang menolak perubahan. Lho kok bisa? Bagaimana mungkin menyarankan orang untuk berubah padahal dirinya sendiri juga sulit untuk berubah? Karena personil IT juga manusia yang mempunyai naluri.

Di bidang IT—khususnya dalam dunia pemrograman—mengubah kode program dari satu bahasa ke bahasa yang lain—secara ekstrim—sering disebut ‘pindah agama’. Sangat sulit sekali untuk dilakukan dan tidak jarang sering membuat personil IT frustasi dan proses perubahan gagal di tengah jalan karena ada penolakan dan tidak ada dukungan. Pada proses perubahan ini, sangat sering sekali kita melakukan perbandingan-perbandingan antara yang hal yang baru dan hal yang lama, mengagung-agungkan kelebihan hal yang lama tetapi menafikan kekurangannya, sembari menjelek-jelekan kekurangan hal yang baru tetapi menafikan kelebihannya.

Sama halnya dengan perubahan struktur organisasi yang terkadang ‘dipaksakan’ untuk dilaksanakan. Sebagian mungkin melakukan penolakan—walaupun hanya dalam hati. Sebagian mungkin merasa pesimis bahwa perubahan ini bisa membawa ke arah yang lebih baik. Tapi, tidak sedikit juga yang bersiap-siap—baik itu secara terpaksa maupun ikhlas—menerima perubahan yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Orang yang ikhlas menerima perubahan tersebut biasanya meyakini 100% bahwa perubahan yang diinginkan oleh manajemen puncak pasti akan membawa ke arah yang lebih baik. Mereka berpikir bahwa tidak mungkin manajemen puncak menginginkan perubahan yang akan menghancurkan perusahaan. Seharusnya sikap ikhlas inilah yang patut dicontoh oleh kita-kita yang menolak perubahan. Lho, bagaimana kita bisa ikhlas ketika perubahan ini membuat hidup dan pekerjaan kita semakin sulit?

Coba bayangkan situasi ini: Kita sebagai pekerja adalah seekor marmut yang ditaruh dalam sebuah kandang besar lengkap dengan fasilitas tempat makan, minum, tidur, dan kebersihan oleh manajemen puncak sebagai pemilik marmut. Pada suatu waktu, pemilik marmut memindahkan lokasi, membuang, atau menambah fasilitas-fasilitas yang ada pada kandang. Kita sebagai marmut pasti akan merasa bahwa perubahan tersebut merepotkan dan tidak bisa memahami apa maksud pemilik melakukan semua ini. Ini terjadi karena kita tidak bisa melihat kandang sebagai satu kesatuan. Kita sebagai marmut tidak bisa melihat kandang secara keseluruhan dan cenderung memecah kandang menjadi ruang makan, ruang minum, ruang tidur, dan ruang-ruang lain. Ini berbeda dengan yang dilihat oleh pemilik marmut. Pemilik marmut akan melihat kandang secara keseluruhan sebagai satu kesatuan. Dia mengetahui apa yang terbaik bagi seekor marmut. Jika sang pemilik membeli seekor marmut baru dan disuruh memilih antara kandang yang lama dan kandang yang baru, niscaya marmut baru tersebut akan memilih kandang yang baru jika memang secara umum lebih nyaman.

Sebagai penutup, saya hendak mengajak pembaca sekalian untuk mengingat saat-saat ketika Microsoft Office 2007 pertama kali dirilis. Banyak pengguna Microsoft Office 2003 yang menghujat versi 2007 sulit untuk digunakan dan mengklaim versi 2003 jauh lebih mudah untuk digunakan. Microsoft pada waktu itu memang melakukan revolusi yang cukup ‘berani’ dengan mengubah pola kerja dari menggunakan menubar dan toolbar yang bersifat struktural menjadi menggunakan ribbon yang bersifat task-oriented. Hmmm, sekilas terlihat sama persis dengan perubahan struktur organisasi yang sering terjadi. Percaya atau tidak, perubahan yang dilakukan Microsoft pada waktu itu justru sebenarnya adalah untuk mempermudah pengguna dalam bekerja.

Coba analogikan kedua versi Office ini dengan cerita marmut sebelumnya! Pernahkah anda melakukan benchmarking dengan cara mencari seseorang yang sama sekali belum pernah menggunakan kedua versi tersebut untuk kemudian memilih versi mana yang paling mudah untuk digunakan? Tahukah anda bahwa hasil benchmarking menyatakan tidak ada yang memilih versi 2003? Tahukah anda bahwa secara perlahan-lahan para pengguna versi 2003 yang sebelumnya menolak akhirnya beralih ke versi 2007? Apakah pengguna Office 2003 yang bermasalah? Atau justru Office versi 2007 yang bermasalah? Sebenarnya tidak ada masalah diantara keduanya seandainya ada satu variabel yang bersifat sebagai jembatan, yaitu waktu.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s